Minggu, 05 Oktober 2008

Ketrampilan Manajerial Kepala Sekolah Dan Hubungannya Dengan Kinerja Guru Di Sekolah Menengah Atas (SMA) Diponegoro Tulungagung ... 135)


Permasalahan: 1) Apakah ada hubungan yang berarti antara ketrampilan konseptual kepala sekolah dengan kinerja guru?, 2) Apakah ada hubungan yang berarti antara ketrampilan hubungan manusia kepala sekolah dengan kinerja guru?, 3) Apakah ada hubungan yang berarti antara ketrampilan teknikal kepala sekolah dengan kinerja guru?, 4) Apakah ada hubungan yang berarti antara ketrampilan manajerial kepala sekolah dengan kinerja guru?

Metode Penelitian: Jenis penelitian deskriptif eksplanatory, populasi seluruh guru dengan menggunakan teknik total sampling. Sedangkan sampel berjumlah 42 orang. Variabel penelitian ganda, Tehnik pengumpulan data: interview, kuesioner dan dokumentasi; analisis data: data kualitatif dianalisis dengan metode deskripstif induktif sedang data kuantitatif dianalisis dengan korelasi parsial dan regresi linear

Hasil penelitian: 1) Bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ketrampilan konseptulan kepala sekolah dengan kinerja guru di SMA Diponegoro Tulungagung; 2) Bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ketrampilan hubungan manusia kepala sekolah dengan kinerja guru di SMA Diponegoro Tulungagung; 3) Bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ketrampilan teknikal kepala sekolah dengan kinerja guru di SMA Diponegoro Tulungagung; 4) Berangkat dari ketiga hal tersebut di atas, maka dapat dijelaskan Bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara ketrampilan manajerial kepala sekolah yang meliputi ketrampilan konseptual, ketrampilan hubungan manusia dan ketrampilan teknikal kepala sekolah dengan kinerja guru di SMA Diponegoro Tulungagung.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Manajemen merupakan hal yang sangat penting dalam semua bidang kehidupan. Dengan manajemen, kinerja sebuah organisasi dapat berjalan secara maksimal. Demikian juga dengan lembaga pendidikan. Dengan manajemen yang baik, maka sebuah institusi pendidikan akan dapat berkembang secara optimal sebagaimana diharapkan.
Menurut Gaffar (1987), manajemen pendidikan di Indonesia merupakan titik sentral dalam mewujudkan tujuan pembangunan Sumber Daya Manusia. Dalam pengamatannya, manajemen pendidikan di Indonesia masih belum menampakkan kemampuan profesional sebagaimana yang diinginkan.

Pakar pendidikan HAR Tilaar (1994) juga memiliki pendapat yang sama. Menurut beliau, masalah manajemen pendidikan merupakan salah satu masalah pokok yang menimbulkan krisis dalam dunia pendidikan Indonesia. Kondisi ini disebabkan karena tidak adanya tenaga-tenaga administrator pendidikan yang profesional.

Oleh karena itu, hal penting yang harus dipertimbangkan bagi sebuah institusi pendidikan adalah adanya tenaga administrator pendidikan yang profesional. Sebagaimana dinyatakan oleh Sonhadji (1996), bahwa dalam pengelolaan administrasi pendidikan, diperlukan kualitas personil yang memadai, dalam arti penempatan orang yang tepat sesuai dengan kompetensi yang diperlukan untuk kinerja yang efektif dan efisien. Studi manajemen di Indonesia yang dilakukan oleh Moegiadi (1974), Nuhi Nasution (1980), Ace Suryadi (1982) menunjukan bahwa faktor manajemen merupakan salah satu faktor yang dapat memberikan efek terhadap prestasi belajar siswa.
Temuan penelitian lainya juga menunjukan bahwa kemerosotan mutu hasl belajar murid tidak hanya disebabkan oleh kurangnya motivasi belajar, kurangnya perhatian orang tua, atau kelemahan-kelemahan pada pihak guru, tetapi faktor yang cukup kuat mempengaruhi adalah perilaku kepemimpinan yang tidak tepat pakai dan tidak tepat guna (Nurtain, 1989).

Dalam usaha mewujudkan tujuan pendidikan, manajemen merupakan faktor yang sangat penting. Oleh karena itu, supaya pendidikan dapat maju, maka harus dikelola oleh administrator pendidikan yang profesional. Disamping pentingnya administrator pendidikan yang profesional, usaha yang penting dalam pencapaian tujuan pendidikan adalah kerjasama yang baik antara semua unsur yang ada, termasuk mendayagunakan seluruh sarana dan prasarana pendidikan. Dalam konteks inilah, administrator pendidikan memegang peranan yang cukup penting.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 1992 pasal 3 ayat 3 dijelaskan bahwa pengelola satuan pendidikan terdiri atas kepala sekolah, direktur, ketua, rektor dan pimpinan satuan pendidikan luar sekolah. Kepala sekolah sebagai salah satu pengelola satuan pendidikan juga disebut sebagai administrator, dan disebut juga sebagai manajer pendidikan. Maju mundurnya kinerja sebuah organisasi ditentukan oleh sang manajer. Kepala sekolah sebagai manajer merupakan pemegang kunci maju mundurnya sekolah. Hal ini sejalan dengan pendapat Richardson dan Barbe (1986: 99) yang menyatakan, “principals is perhaps the most significant single factor in establishing an effective school” (Kepala Sekolah merupakan faktor yang paling penting didalam membentuk sebuah sekolah yang efektif).

Dalam posisinya sebagai administrator dan manajer pendidikan, kepala sekolah diharapkan memiliki kemampuan profesional dan ketrampilan yang memadai. Ketrampilan–ketrampilan yang diperlukan dalam mencapai keberhasilan sekolah, oleh Robert Katz diidentifikasi dalam 3 (tiga) ketrampilan pokok yaitu ketrampilan konseptual, ketrampilan hubungan dan ketrampilan tehnikal (Sergiovanni & Carver, 1980). Ketrampilan konseptual meliputi; kemampuan melihat sekolah dan semua program pendidikan sebagai suatu keseluruhan. Ketrampilan hubungan manusia meliputi; kemampuan menjalin hubungan kerjasama secara efektif dan efisien dengan personel sekolah, baik secara perorangan maupun kelompok.. Ketrampilan tehnikal merupakan kecakapan dan keahlihan yang harus dimiliki kepala sekolah meliputi metode-metode, proses-proses, prosedur dan tehnik pengelolahan kelas.

Dengan kemampuan profesional manajemen pendidikan, kepala sekolah diharapkan dapat menyusun program sekolah yang efektif, menciptakan iklim sekolah yang kondusif dan membangun unjuk kerja personel sekolah serta dapat membimbing guru melaksanakan proses pembelajaran. Di sekolah, kepala sekolah senantiasa berinteraksi dengan guru bawahannya, memonitor dan menilai kegiatan mereka sehari-hari ( Nurtain,1989). Rendahnya kinerja guru akan berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas yang pada gilirannya akan berpengaruh pula terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Rendahnya kinerja guru harus diidentifikasi penyebabnya. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi terhadap kinerja seorang guru. Pada kondisi semacam ini, kepala sekolah memegang peranan penting, karena dapat memberikan iklim yang memungkinkan bagi guru berkarya dengan penuh semangat. Dengan ketrampilan manajerial yang dimiliki, kepala sekolah membangun dan mempertahankan kinerja guru yang positif.

Berdasarkan kajian teoretis sebagaimana terdeskripsi diatas, ada beberapa alasan yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian ini. Pertama, kemajuan dibidang pendidikan membutuhkan administrator pendidikan yang mampu mengelola satuan pendidikan dan mampu meningkatkan kinerja guru dalam mencapai tujuan pendidikan.
Kedua, persepsi masyarakat selama ini memposisikan guru sebagai kunci utama keberhasilan atau kegagalan pendidikan. Padahal, seorang guru hanyalah salah satu komponen dalam satuan pendidikan di sekolah. Di samping guru, kepala sekolah adalah pihak yang memegang peranan tidak kalah penting.

Ketiga, kajian empiris dengan tema ini menarik untuk dilakukan mengingat perkembangan ilmu dan teori manajemen, khususnya manajemen pendidikan, yang berjalan dengan pesat.

Optimalisasi Anggaran Pendapatan Dan Biaya Sekolah … (136)


Diera persaingan dunia pendidikan yang semakin ketat, performance pengelola unit pendidikan swasta khususnya dalam hal mutu proses pengelolahan pendapatan dan pembiayaan harus bisa direalisasikan sesuai rencana untuk mendukung pencapaian sasaran yang diharapkan. Oleh karena itu Perguruan pendidikan Nahdlatul Ulama’ Trate Gresik selaku pengelola enam unit pendidikan swasta dirasa perlu untuk mengukur tingkat optimalnya Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah (APBS) yang selama ini sebagai berfungsi perencanaa, pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan.

Kelebihan anggaran (Over Budget) itulah isu yang sangat kuat. Oleh karena itu perlu mencoba melihat. Dengan data dan fakta yang ada ditemukan bahwa kinerja Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah (APBS) tidak berfungsi secara optimal. Dicoba meneliti dengan metode diagram tulang ikan untuk mendapatkan penyebab-penyebab tidak optimalnya kinerja, juga melakukan kaji ulang terhadap kebijakan pengelolahan Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah (APBS) yang sudah ada untuk mencari perbaikan-perbaikan yang dapat mengoptimalkan kinerja. Dengan meminimalkan penyebab-penyebab yang ada dan dengan menggunakan prinsip Kaizen dimana perbaikan dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan didapatkan hasil adanya peningkatan kinerja Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah (APBS) yang dibuktikan penggunaan biaya lebih kecil dari rencana pada periode uji empirik.

Dengan optimalnya kinerja Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah (APBS) sangat mendukung pengelolah dalam hal ini Perguruan Pendidikan Nahdlatul Ulama’ Trate Gresik dalam memutuskan kebijakan dan pencapaian sasaran yang diinginkan

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan yang dibuktikan dengan tumbuh dan berkembangnya pengelolah pendidikan swasta saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat persaiangan bisnis didunia pendidikan bagi pengelolah dirasakan semakin ketat. Hal ini dapat ditunjukkan adanya beberapa unit pendidikan swasta mendapatkan siswa lebih dari target yang ditetapkan dan ada pula yang mendapatkan siswa jauh dari yang diharapkan.

Sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan tersebut diatas, kegiatan yang dikelola oleh pengelola pendidikan semakin banyak juga, baik dari jenis kegiatan, volume kegiatan maupun biaya kegiatan. Pendekatan mutu yang berorientasi pada perbaikan dan peningkatan kinerja secara terus menerus merupakan suatu keharusan bagi pengelolah pendidikan agar tetap eksis ditengah persaingan yang semakin ketat.
Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah merupakan salah satu system, nampaknya cukup memadai untuk dipergunakan sebagai alat perencanaan, koordinasi dan pengawasan dari seluruh aktifitas organisasi atau pengelolah pendidikan. Dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah, pengelolah akan dapat menyusun perencanaan dengan lebih baik dan seksama sehingga koordinasi dan pengawasan yang dilakukan dapat memadai pula.

Perguruan Pendidikan Nahdlatul Ulama Trate Gresik adalah salah satu organisasi pengelolah pendidikan yang cukup besar di Kota Gresik. Organisasi didirikan pada tahun 1939. Saat ini organisasi memiliki enam unit pendidikan yang harus dikelola dengan baik. Salah satu fungsi dari pengelolah pendidikan adalah melakukan perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasa terhadap seluruh kegiatan unit-unit pendidikan yang dikelola dengan baik

Realita yang ada, Perguruan Pendidikan Nahdlatul Ulama Trate Gresik telah melakukan pengelolahan yang cukup baik terhadap unit-unit pendidikan. Hal ini dapat dibuktikan adanya beberapa unit pendidikan yang difavoritkan masyarakat dan adanya beberapa unit pendidikan yang dipercaya sebagai madrasah unggulan di kota Gresik oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif.

Sehubungan dengan hal tersebut, pengelola dihadapkan pada tantangan yang cukup berat terutama dibidang pengelolahan dan pengendalian anggaran. Untuk mempertahankan predikat unit pendidikan favorit dan unggulan, pengelolah dituntut untuk memenuhi beberapa kebutuhan baik biaya operasional pendidikan maupun pemenuhan infra struktur yang dibutuhkan sehingga tiga tahun ajaran pendidikan terakhir pengelolah dihadapkan suatu permasalaha yaitu pengeluaran biaya melebihi Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah yang telah ditetapkan (Over Budget)


Strategi Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Di Smp Negeri I Wates Kebupaten Kediri … (134)


Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Mengetahui faktor-faktor kekuatan dan kelemahan (faktor internal) serta peluang dan ancaman (faktor eksternal) yang muncul dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMP Negeri 1 Wates Kabupaten Kediri. 2) Mengetahui strategi yang sesuai untuk diterapkan dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMP Negeri 1 Wates Kabupaten Kediri. Sedangkan Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli 2006 sampai September 2006, sedangkan obyek penelitiannya di SMP Negeri 1 Wates Kabupaten Kediri, jalan Kediri no 3 Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Pemilihan tempat ini didasarkan pada pemikiran bahwa peneliti adalah guru yang bekerja di SMP Negari 1 Wates Kediri sehingga akan memudahkan dalam pengambilan data.

Sampel pada penelitian ini adalah semua pegawai dan instansi SMP Negeri 1 Wates Kediri. Teknik pengambilan data yaitu data primer dan data sekunder. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan dua alat analisa yaitu : 1) Analisis kualitatif yaitu dengan cara menguraikan masalah yang ada dengan kalimat-kalimat yang bertujuan untuk menjelaskan masalah yang terjadi hingga diperoleh kesimpulah yang jelas, 2) Analisis kuantitatif yaitu dengan cara memberikan pembobotan atau dengan rumus-rumus sehingga diperoleh nilai angka yang pasti. Dengan dua metode tersebut dibuat gambaran secara jelas dengan mendiskripsikan obyek penelitian, berupa penanganan masalah dan kasus-kasus yang timbul dengan analisis SWOT.

Hasil penelitian yang dapat diambil berikut : 1) Faktor-faktor yang muncul dalam Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi(KBK) di SMP Negeri 1 Wates ada dua yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi Strenght (kekuatan) dan Weakness (kelemahan), sedangkan faktor eksternal berupa Opportunities (peluang) dan Threaths (ancaman). Faktor kekuatan terdiri dari motifasi guru, metode mengajar, sarana prasarana, ditetapkannya Sekolah Standar Nasional, prestasi non akademik siswa dan ketenagaan. Adapun faktor kelemahan terdiri dari input siswa yang NUN nya rendah, jumlah peserta didik di kelas, motifasi siswa, tingkat kesiapan guru dan keterbatasan dana, 2) Strategi yang sesuai diterapkan dalam Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMP Negeri 1 Wates Kabupaten Kediri adalah memberikan motivasi kepada guru-guru yang ada di SMP Negeri 1 Wates Kabupaten Kediri untuk meningkatkan kinerja sehingga guru lebih memahami terhadap tugasnya sebagai pendidik, peningkatan penggunaan sarana dan ruang multi media, peningkatan metode mengajar yang lebih bervariasi. Disamping itu para guru harus lebih banyak diikutkan pada pelatihan, workshop, sehingga pengetahuannya bisa bertambah. Perlu juga menambah sarana prasarana yang diperlukan seperti buku penunjang, peralatan laboratorium dan lain-lain.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Masyarakat Indonesia dengan laju pembangunannya masih menghadapi masalah pendidikan yang berat terutama berkaitan dengan kualitas, relevansi dan efisiensi pendidikan.
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Sebenarnya berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, antara lain melalui berbagai latihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan seperti kualitas outputnya belum menunjukkan peningkatan yang berarti.

Dari berbagai pengamatan dan analisis, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.

Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production function atau input output analisis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input (masukan) yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga ini akan menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap bahwa apabila input pendidikan seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan sarana serta prasarana pendidikan lainnya dipenuhi, maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terjadi. Dalam kenyataannya, mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi, Mengapa? Karena selama ini dalam menerapkan pendekatan education production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.

Faktor kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik sentralistik sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Dengan demikian, sekolah kehilangan kemandirian, motivasi dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan nasional.

Faktor ketiga adalah peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim. Partisipasi masyarakat selama ini pada umumnya lebih bersifat dukungan financial (keuangan) dan bukan pada proses pendidikan mulai dari pengambilan keputusan, monitoring, evaluasi dan akuntabilitas. Berkaitan dengan akuntabilitas, sekolah tidak mempunyai beban untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat, khususnya orang tua siswa, sebagai salah satu unsur utama yang berkepentingan dengan pendidikan.

Gerakan reformasi di Indonesia secara umum menuntut diterapkannya prinsip demokrasi, desentralisasi, keadilan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hubungannya dengan pendidikan, prinsip prinsip tersebut akan memberikan dampak yang mendasar pada proses dan manajemen sistem pendidikan. Tuntutan tersebut menyangkut pembaharuan sistem pendidikan, diantaranya pembaharuan kurikulum, yaitu diversifikasi kurikulum untuk melayani peserta didik dan potensi daerah yang beragam, diversifikasi jenis pendidikan yang dilakukan secara profesional. Penyusunan standar kompetensi tamatan yang berlaku secara nasional dan daerah menyesuaikan dengan kondisi setempat, penyusunan standar pembaharuan pendidikan untuk setiap satuan pendidikan sesuai prinsip-prinsip pemerataan dan keadilan pelaksanaan manajemen pendidikan berbasis sekolah.

Meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan adanya sistem pendidikan dan kurikulum yang bersifat fleksibel dan dinamis serta mampu mengakomodasi keanekaragaman kemampuan siswa, potensi daerah, kualitas sumber daya manusia, sarana pembelajaran dan kondisi sosial budaya.
Kurikulum tahun 1994, masih bersifat nasional, sarat materi, sebagian materi tumpang tindih pada tingkat pendidikan yang berbeda, sehingga sebagian kegiatan pembelajaran kurang bermakna bagi siswa.

Berdasarkan permasalahan diatas, Ketetapan MPR No. IV/1999 bidang pendidikan menyatakan perlunya dilakukan pembaharuan sistem pendidikan dan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2000 tentang Otonomi Daerah, perlu pembenahan kurikulum yang dapat mengakomodasi diversifikasi potensi sumber daya di masing-masing daerah. Untuk itu disusunlah kurikulum yang berbasis kompetensi yang lebih fleksibel dan dinamis.

Dalam kurikulum ini pemerintah pusat menentukan standar kompetensi umum secara nasional yang berlaku di seluruh daerah, sedangkan daerah diberi kekuasaan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi dan karakteristik masing masing.

Melihat begitu kompleks dan rumitnya persoalan pendidikan yang ada dibalik rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia, maka diperlukan upaya yang sungguh sungguh untuk mengurangi dan menyelesaikan persoalan pendidikan secara menyeluruh (komprehensif) dengan melihat seluruh komponen masyarakat (stakeholder). Untuk itu dibutuhkan visi dan misi yang jelas.sehingga mampu memberi arahan kebijakan secara menyeluruh tentang apa yang hendak dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Upaya mewujudkan pendidikan yang bermutu sesuai dengan perkembangan IPTEK dan globalisasi, berdasarkan Ketetapan MPR No IV/1999 Bidang Pendidikan menyatakan perlunya dilakukan pembaharuan sistem pendidikan dan peraturan pemerintah No. 22 tahun 2000 tentang otonomi daerah. Dalam kerangka otonomi pendidikan Depdiknas mengembangkan suatu pola Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagai entry point menuju pengelolaan pendidikan yang berorientasi pada mutu dengan mendasarkan kepada empat aspek yaitu demokrasi, transformasi, berkelanjutan dan akuntabilitas.

Disamping itu perlu pembenahan kurikulum yang dapat mengakomodasi potensi sumber daya di masing masing daerah, maka disusunlah kurikulum yang berbasis kompetensi yang lebih fleksibel dan dinamis. Dalam kurikulum ini pemerintah pusat menentukan standar kompetensi umum secara nasional yang berlaku di seluruh daerah, sedangkan daerah diberi kekuasaan untuk mengembangkan kerikulum sesuai dengan potensi dan karakteristik daerah masing masing.

Penilaian dikembangkan dengan sistem penilaian yang berbasis portofolio (portofolio based assessment) yaitu usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, pengembangan wawasan pengetahuan, sikap dan ketrampilan peserta didik yang bersumber dari catatan dan dokumentasi pengalaman belajarnya.

Berdasarkan pemaparan tersebut diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : Strategi Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMP Negeri 1 Wates Kediri.

Peranan Just In Time Method Sebagai Upaya Untuk Mengeliminasi Non Value Added Activity Pada Produksi Perusahaan ...(133)


BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Persaingan pasar yang tajam pada saat sekarang banyak dihadapi oleh perusahaan –perusahaan.Dalam persaingan pasar yang tidak hanya dalam ruang lingkup nasional , semakin berkembangnya transportasi dan alat komunikasi telah mendorong persaingan global. Kemajuan teknologi berperan penting dalam semakin pendeknya perputaran barang dan semakin banyaknya jenis barang yang diproduksi . Hal ini merupakan tanda bahwa semkin pesat pertumbuhan usaha yang masing –masing perusahaan akan sellumemberikan sesuatu yang terbaik dari apa yang dimilikinya .Keberadaan perusahaan –perusahaan asing yang menawarkan produk dengan karatr khusus yaitu berbiaya rendah namun berkualitas tinggi telah menimbulkan tekanan berat bagi perusahaan local untuk meningkatkan kualitas dan jenis produk serta dalam waktu yang bersamaan mengurangi biaya produksi total.Tekanan kompetitif ini membuat banyak perusahaan meninggalkan model EQQ dan beralih kependekatan Jus In Time (JIT) . Jus In Time mempunyai dua tujuan strategis yaitu meningkatkan pendapatan dan meningkatkan posisi perusahaan dalam persaingan.

Kedua tujuan ini dapat dicapai dengan pengendalian biaya , meningkatkan kinerja pengiriman dan peningkatan kualitas. Just In Time menawarkan peningkatan efisiensi biaya dan fleksibilitas dalam menjawab permintaan keuntungan perusahaan menurun sebagai akibat dari tingginya biaya dan menyusutnya pangsa pasar.

Pemborosan juga akan berdampak pada kualitas dan penyerahan barang Operasi yang tidak bermanfaat mempunyai kecendrungan memperburuk kualitas , yaitu defect , scrap dan rework . Proses yang tidak bermanafaat dalam rangkaian bisnis juga akan memperbesar lead times, akibatnya penyerahan menjadi terlambat . Kualitas dan penyerahan buruk akan berakibat menurunnya tingkat kepuasan konsumen .

Pengurangan pemborosan adalah pendorong utama Just In Time , hal ini juga merupakan tujuan utama dari semua perusahaan, baikitu penggiuna Just In Time atau bukan . Just In Time lebih sekedar dari sistem manajemen persediaan . Barang persediaa yang meliputi sumber daya seperti dana , ruang dan tenaga kerja di pandang sebagai suatu pemborosan . Didalamnya tersembunyi inefisiensi dalam produksi dan meningkatnya kompleksitas dari sistem informasi dari suatu perusahaan. Meski Just In Time lebih sekedar memusatkn perhatian pada manajemen persediaan , namun pengendalian persediaan ini sangat penting faedahnya.

Riset pendahuluan yang penulis lakukan pada perusahaan garment “VOXI 73 “ Pandaan , menemukan bahwa perusahaan belum menerapkan Just In Time Method untuk perbaikan kualitas produksi secara berkesinambungan , sehingga efisiensi dan produktifitas yang diharapkan belum tercapaisebagaimana mestinya.

Dalam perusahaan masih terdapat pemborosan - pemborosan terselubung yang sulit terlihat dan sulit di hentikan .Perusahaann seharusnya mencurahkan usaha dan sumber daya mereka dalam menemukan dan mengindentifikasi pemborosan terselubung.
Berdasarkan kenyataan diatas itulah maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian untuk mengambil judul “ Peranan Just In Time Method Sebagai Upaya Untuk Mengeliminasi Non Value Added Activity Pada Produksi Perusahaan Garment “ VOXI 73 .”



Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan pada Perusahaan Food & Beverage di Bursa Efek Surabaya.. (132).


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam mendirikan perusahaan, seorang investor atau pemilik perusahaan pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Menurut John D. Martin (1993) perusahaan didirikan dengan tujuan tertentu, yaitu : memaksimalkan keuntungan atau kekayaan bagi karyawan, masyarakat sekliling perusahaan dan terutama pemegang saham. Maksimali perusahaan sering disebut sebagai tujuan perusahaan dalam arti mikro ekonomi, tetapi itu belum cukup disebut sebagai tujuan perusahaan apabila ditinjau dari sudut keuangan, hal ini sesuai dengan pernyataan Clive (1990) bahwa maksimalisasi laba mempunyai kelemahan sebagai berikut :

1. Ukuran laba ditentukan oleh metode akuntansi yang digunakan. Hal ini menyebabkan laba sebagai tujuan yang dapat diukur mempunyai keterbatasan.
2. Laba tidak mempertimbangkan ukuran atau skala investasi yang ditanamkan.
3. Laba tidak mempertimbangkan pola waktu dari pengembalian.
4. Penggunaan laba tidak mempertimbangkan tingkat resiko yang dihadapi dalam investasi yang dilakukan.

Atas dasar kelemahan-kelemahan maksimalisasi laba, maka seharusnya tujian yang dicapai oleh manajer keuangan adalah bukan maksimalisasi laba, melainkan maksimalisasi kekayaan pemegang saham melalui maksimalisasi nilai perusahaan. Tujan ini dapat ditempuh dengan memaksimumkan nilai sekarang atau persent value semua keuntungan pemegang saham akan meningkat bila harga saham yang dimiliki meningkat.
Syamsudin (1995) menyatakan bahwa tujuan dari memaksimumkan kekayaan pemegang saham harus diutamakan oleh perusahaan, karena tujuan ini mempertimbangkan penghasilan pemilik perusahaan, pandangan jangka panjang, waktu penerimaan keuntungan, resiko, dan distribusi keuntungan perusahaan.

Pemegang saham sebagai pemilik perusahaan biasanya tidak ikut terlibat langsung dalam manajemen perusahaan, tetapi mendelegasikan kepada tim manajemen yang dipilih untuk mengoperasikan perusahaan. Pemilik modal berharap keputusan yang diambil oleh tim manajemen adalah merupakan keputusan yang terbaik bagi kepentingan pemegang saham yaitu meningkatkan kekayaan pemilik muda.

Oleh karena pemegang saham tidak terlibat langsumng dalam manajemen perusahaan, maka secara terbuka perusahaan harus diketahui kinerjanya oleh pemegang saham atau investor. Kurangnya informasi dalam melakukan penilaian terhadap operasional perusahaan akan menyebabkan kesalahan penilaian terhadap investasi yang dilakukan.
Untuk mengukur kinerja perusahaan investor biasanya menggunakan ukuran kinerja keuangan yang berupa rasio keuangan dengan berbagai macam rasio. Seringkali terjadi satu rasio keuangan baik, belum tentu rasio keuangan lainnya juga baik. Berbagai keterbatasan analisis rasio keuangan ini diungkapkan oleh Weston dan Brigham (1994). Selain itu untuk melihat kinerja keuangan dengan ukuran rasio ini diperlukan adanya ukuran pembandingyang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan lain yang sering kali sulit untuk didapatkan. Ukuran rasio tersebut diperlukan juga sebuah analisis trend dari setiap rasio terhadap setiap rasio beberapa tahun sebelumnya. Untuk memberi alternatif lain dengan mempertimbangkan berbagai keterbatasan rasio maka munculah Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) sebagai alat ukur kinerja keuangan perusahaan.

EVA untuk mengukur kinerja internal perusahaan relative masih baru dan belum, banyakk diadopsi oleh negara-negara berkembang. .EVA dikembangkan oleh Stern Steward & Company merupakan suatu ukuran kinerja keuangan perusahaan dengan cara mengurangi biaya modal (Cost of Capital ) yang timbul sebagai akibat investasi yang di lakukan
Capitalmerupakan jumalh dana yang tersedia bagi perusahaan untuk membiayai usahanya yang merupakan penjumlahan dari total hutang dan modal saham atau ecuitas..Total biaya modal (cost of capital ) meniunjukan besarnya kompensasi atau pengembalian yang ditutup investor atas modal yang telah di investasikan di perusahaan. Besarnya kompensasi tergantung pada tiungkat resiko perusahaan yang bersangkutan

Secara konseptual perhitungan EVA adalah laba dikurangi biaya modal . Sehingga dari perhitungan tersebut dapat digambarkan bahwa apabila tingkat pengembalian yang dihasilkan (laba) lebih besar dari biaya modal yang dituntut investor atas inveatasinya maka akan menghasilkan EVA positif Keadaan ini menunjukan bahwa perusahaan berhasil menciptakan nilai bagi pemilik modal . Demikian juga sebaliknya , apabila tingkat pengembalian yang dihasilkan perusahaan (laba) lebih kecil dari biaya modal yang dituntut investor atas investasinya , maka akan mengasilkan EVA yang negatif sehingga nilai perusajhaan berkurang.
Sedangkan MVA merupakan hasil kumulatif kinerja perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan maupoun yang diantisipasi yang akan dilakukan sehingga keberhasilan dari MVA ini adalah sebagi keberhasilan memaksimalkan kekayaan pemeganmg sdaham dengan alokasi sumber-sumber yang sesuai .Dengan demikian MVA merupakan ukuran kinerja eksternal perusahaan . Berkaitan dengan biaya modal , maka seperti pada perhitungan EVA diatas, apabila laba perusahaan lebih besar dari biaya modal , maka akan menghasilkan EVA positif sehingganilai perusahaan juga meningkat . Hal ini akan mengakibatkan meningkatnya MVA karena EVA merupakan selisih antara nilaiperusahaan dengan nilai modal.Demikian juga sebaliknya.

Bagi investor , bila kita hubungkan dengan ukuran kinerja perusahaan maka investor disatu sisi perlu memahami kinerja internal keuangan perusahaan dan disisi lain perlu mengetahui kinerja eksternal perusahaan yang mampu menciptakan nilai tambah baginya . Oleh karena itu EVA dan MVA sebagai ukuran kinerja keuangan perusahaan yang belum banyak dipakai perlu pembahasan dan pembuktian labiih lanjut khususnya untuk menilai kinerja keuangan pada industri di negara kita. EVA dan MVA lebih menekankan pada penciptaan nilai tambah
EVA dan MVA diterapkan pada perusahaan dengan sistem management by open book . Oleh karena itu perusahaan Food & Beferage yang go pulic di Bursa Efek Surabaya yang akan diteliti karena Perusahaan Food & Beferage bersifat paling resisten terhadap kondisi pasar . pada umumnya perusahaan yang tergolong sebagai perusahaan besarlah yang melakukan go public . Mengingat perusahaan besar unruk aktivitas usahanya memerlukan dana dalam jumlah besar pula dalam hal ini akan terpenuhi bila menggali dana pada masyarakat lewat passer modal .


Konsepsi Profit Loss Sharing Sebagai Penilaian Laba Akuntansi Dalam Konteks Perbankan Syariah ( Studi Pada Bank Syariah Mandiri ) ... (131)



BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sebuah fenomena perekonomian dunia telah dari waktu ke waktu dengan perkembangan zaman dan perubahan teknologi informasi yang berkembang pesat. Terdpat pulanilai-nilai baru yang dibentuk namun sulit untuk menentukan mana yang benar dan yang salah , sehingga kadang membawa kebaikan namun ada kalanya menyesatkan. Globalisasi ekonomi yang diwarnai dengan terbukanya perdagangan bebas antar Negara ,membuka peluang untuk mengubah suasana kehidupan sosial menjadi individualis dengan persaingan yang amat ketat.

Telah lama diinginkan oleh umat isslam di Indonesia maupun dunia terhadap adanya tatanan perekonomian yang menjanjikan dan membawa kemaslahatan bagi umat. Sejarah perekonomuan nasional telah membuktikan bahwa tatanan perekonomian yang lama dianut telah membuat bangsa Indonesia terseret dalam putaran keuangan kapitalis yang dahsyat.

Ketidak seimbangan ekonomi global dan krisis ekonomi yang melanda Asia , khususnya Indonesia adalah salah satu bukti bahwa tatanan ekonomi yang ada memiliki kelemahan .Adanya kenyataan sejumlah besar bak ditutup, di take over, dan sebagian besar lainnya harus direkapitulasi dengan biaya ratusan triliun rupiah. Kondisiini ternyata akan menuntut pemerintah untuk segera bertindak dan melakukan sesuatu untuk memperbaikinya .

SemenjakBank Muamalat Indonesia berdiri dan beroperasi sejak tahun 1992 dengan membawa prinsip perbankan yang berlandaskan pada prinsip ekonomi islam, telah terjadi wcanabaaru bagi para ekonom untuk menggalipemikiran tentang pembentukan tatanan ekonomi yang lebih baik. Prinsip muamalah syariah dengan filosofi kemitraan ‘ dan ‘kebersamaan’ (sharing ) dalam profit dan risk menjadi wacana dalam mewujudkan kegiatan ekonomi yang lebih adildan transparan .Sekaligus pula membuktikan bahwa dengan sistem perbankan syariah , kita dap[at menghilangkan negative spread (keuntungan minus ) dari dunia perbankan.

Dalam pengalaman historis , telah memberikan harapan masyarakat akan hadirnya sistem perbankan syariah sebagai alternatif sistem perbankan yang selain memenuhi harapan masyarakat dalam aspek syariah , juga dapat memberikan manfaat yang luas dalam kegiatan perekonomian .Sistem perbankan syariah telah menunjukan pertumbuhan yang cukup pesat, yaitu sebesar 74 persen pertahun selama kurun waktu 1998 sampai2001 (nominaldari Rp 479 miliar pada tahun 1998 menjadi Rp.2.718 miliar pada tahun 2001 ). Dana pihak ketiga telah meningkat dari Rp. 392 miliar menjadi Rp.1.806 miliar (Hermawan :2002). Selain itu, sistem perbankan syariah telah pula mengalami pertumbuhan dalam hal kelembagaan .

Dalam sistematika perangkat penyeimbang perekonomian dalam islam, menyebutkan sistem bagi hasil dalam berusaha ( profit and loss sharing) . Prinsip ini menggantikan pranata bunga (interest) dimana membuka peluang yang sama antara pemodal dan pengusaha . Keberpihakan sistem bunga kepada pemodal dapat dihilang dengan sistem bagi hasil, sehingga sistem inipun apabila dikaji lebih jauh akan mampu menyeimbangkan antara sector moneter dan sector riil. Sejalan pula dengan semakin berkembangnya perbankan syariah , baru-baru ini Bank Indonesia menerbitkan cetak biru pengembangan perbankan syariah.Pelaksanaan inisiatif-inisiatif dalam cetak biru ini dapat dibagi kedalam empat fokus area pengembangan yang berdasarkan kerangka waktu dibagi dalam tiga tahapan periode pencapaian. Empat fokus urtama diusahakan mencakup kepatuhan padaprinsipsyariah, prinsipkehati-hatian dalam beroperasi , efisien operasional dan daya saing serta kestabilan sistem perbankan. Adapun tujuan proses pentahapan adalah agar perkembangan sistem perbankan syariah dapat dilakukan dengan mantap berkesinambungan dan sesuaidengan permintaan.

Mengacu kepada pentahapan pengembangan perbakan syariah yang tersebutkan dalan cetak biru bank syariah , maka pentahapan tersebut tersaji sebagai berikut :
Tahap I (2002-2004), inisiatif strategis pada tahapan ini difokuskan pada pembentukan kerangka dasar sistem pengaturan yang disesuaikan dengan karakteristik operasionalperbankan syariah yang sehat .Diantaranya menyempurnakan landasan ketentuan kehati-hatian dan good corporate governance serta membuat kerangka dasar pengaturan yang dapat mengadopsi keunikan karakteristik transaksi sertkaidah-kaidah kesyariahan merupakan faktor kunci kesinambungan operasi perbankan syariah dalam jangka panjang .Untuk mencapai hal itu , diharapkan dapat terwujud beberpa keuangan syariah.

Penyelesaian peryataan standar akuntansi keuangan (PSAK), Akuntansi Perbankan Syariah dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) yang disiapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) bekerja sama dengan Bank Indonesia dan lembaga keuangan syariah lainya merupkan salah satu prasyarat untuk dapat menyusun berbagai ketentuan perbankan syariah.

Tahap II (2004-2008), merupakan implementasiinisiatif padadasarnya merupakan kelanjutan dari program-program pengembangan yang rtelah dilakukan dalam tahap I .Adapun kegiatan pengembangan lebih difokuskan pada realisasi kegitan yang telah direncanakan dalam tahap pertma program pengembangan.
Pada tahap ini dikembangkan konsep pengaturan bagikebijakan exit and entry. Ini merupakan salah satu komponen penting untuk menjaga kesehatan sistem perbankan syariah adalah adanya kebijakan entry dan exit yang jelas . Dengan diberlakukannya kebijakan ini, diharapkan industri perbankan syariah akan didukung oleh pelaku-pelaku yang memiliki keahlian dan dedikasi tinggi dalam menjalankan operasi perbankan syariah.

Selain itu, kebijakan entry dan exit yang jelas akan sangat membatu penyusunan ketetuan lain yang bersifat lebih sistematik .Inisiatif lainnya dalam tahap II ini adalah menyusun konsep deposit takaful yang dapatmeminimumkan potensi biaya akibat gagalnya kegitn perbankan . Guna meningkatkan daya tahan sistem perbankan syariah dalam menghadapai kondisi ketidak pastian, Baink Indonesia akan memformulasikan konsep safety net ( dalam hal ini deposit takaful), yang pada akhirnya dapat mencegah terjadinya bank run . Penyusunan deposit takaful merupakan sutu kebutuhan yang mendasar dalam menjaga tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi .

Tahap III (2008-2011), implementasi inisiatif merupakan finalisasi sistem perbankan syariah yang diharapkan dapat memenuhi standar keuangan dan kualitas pelayanan internasional.Bank Indonesia berharap, bila seluruh inisiatif ini terlaksana maka akan terwujud sistem perbankan syariah yang kompetitif , efisien dan memenuhi prinsip kehati-hatian . Serta mampu mendukung sector riil secara nyata melalui kegiatan pembiuayaan berbasis bagi hasil (share based financing) dan transaksi riildalam kerangka keadilan , tolong-menolong dan menuju kebaikan guna mencapai kemaslahatan masyarakat.

Dengan diterbitkannya cetak biru perbankan syariah yang telah disebutkan , maka setidaknya akan membawa keyakinan bagi keberlangsungan praktek syariah dengan implementasinya pada sektor perbankan di Indonesia. Pengenalan dan sosialisasi konsep syariah kepada masyarakat merupakan penekanan pertam untuk memantapkan pengembangan sektor perbankan ini .Terutama bagi masyarakat yang masih belum memahami konsep bagi hasil yang menjadi pertimbangan pertama sebelum mereka menginvestasikan dananya pada sektor perbankan syariah .

Lebih lanjut lagi denga keberadaan konsep laba yang secara umum menjadi bahan intrumen untuk menentukan kebijakan pembayaran deviden , keputusan investasi , besarnya pajk,dan prediksi kinerja perusahaan, keputusan –keputusan ekonomi tersebut jelas memerlukan informasi yang akurat tentang accounting numbers of income. Akuntansi syariah dalam kontruksinya menggunakan ‘metafora amanah’ dan ‘metafora zakat’ (Triyuwono: 2001) , telah menjelaskan bahwa konsaep akuntansi syariah dibangun berdasarkan pada konsep dan nilai zakat .Konsep laba akuntansi yang berasal dari perhitungan operasional bagi hasil dan jasa perbankan syariah akan menjadi dasar penetuan bagipemakai informasi laba akuntansi.

Dengan diberlakukannya ketentuan sebagaimana yang termaktub dalam Peryatan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 59 tentang Akuntansi Perbankan Syariah , telah jelas menunjukan suatu pranata ekonomi yang telah disepakati .Ketentuan tentang operasional perbankan yang berlandaskan pada prinsip syariah telah menjadi semakin jelas bagi perbankan itu sendiri . Sebgaisuatu entitas bagi penerapan konsep bagi hasil, lembaga perbankan sebagaimana Bank Syariah Mandiri dapt dimbil sebgiobyek dari penelitin berikut. Bank yang berangkat dengan menerpkan sistem syariah , setidaknya akan memberikan gambaran yang jelas tentang sosialisasi konsep ekonomi islam ,khususnya sistem bagi hasil , kepada masyarakat sebagai konsumen jasa perbankan secara umum.

1.2.Rumusan Permasalahan
Berkaitan dengan adanya beberapa anggapan masyarakat terhadap pranata bunga (interest) dan perlakuan sistyem bagi hasil (profit andloss sharing) pada sektor perbankn syariah , menjadi kerangka bagi penjabaran sosialissi ekonomi Islam. Belum banyak hal dari konsepsi perbankan syariah yang sempat dicerna bagi masyarakat , terutama umat Islam , sehingga penjabaran dari penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat menjadi bentuk sosialisasi tersebut.

Berangkat dengan bertumbuhkembangnya perbankan yang menerapkan konsep syariah , setidaknya akan membentuk opini masyarakat yang berbeda. Opini tersebut bisa dalam bentuk positif maupun negatif . Namun melalui pendekatan kajian secara ilmiah akan sedikitnya meluruskan opini yang berkembang kepada konsep syariah yang sesungguhnya . Sehingga permasalahan yang akan diambil dengan berdasarkan padauraian sebelumnya akan mencoba menjawab pertanyaan berikut:

“ Bagaimana penerapan profit and loss sharing concept (sistem bagi hasil) yang akan digunakan sebagai penilaian laba akuntansi dalam konteks perbankan syariah ? “ (Proyeksi penerapan PLS Concept diarahkan pada Bank SyariahMandiri)

Senin, 01 September 2008

Analisis Laporan Keuangan Sebagai Salah Satu Alat Untuk Menilai Tingkat Keberhasilan Kinerja Keuangan Manajemen Pada Pt. Surabaya Wire...(130)


Penyusun mengambil tema mengenai Analisis Terhadap Laporan Keuanagn sebagai Salah Satu Alat Untuk Menilai Tingkat Keberhasilan Kinerja Keuangan Manajemen. Tujuan penulisan Skripsi ini adaalah untuk menilai kinerja keuangan ditinjau dari sudut pandang manajemen sehingga dapat diketahui kondisi dan prestasi yang telah dicapai pada PT.. Surabaya Wire Gresik.

Variabel yang digunakan adalah laporan Keuanagan yang terdiridari Neraca dan Laporan Laba Rugi tahun 1999 sampaidengn tahun 2001 dari PT. Surabaya Wire Gresuk yang didapat padatahun 2003. Teknik analisis data yang digunakan adalah Analisis Operasional , Analisis Manajemen Sumber Daya dan Analisis Profitabilitas.

Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil Analisis Operasional yang meliputi perhitungan Marjin Kotor. Harga Pokok Penjualan, Marjin Laba dan Rasio Beban setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan . Hal ini menunjukan bahwa PT. Surabaya Wire sudah dapat menjalankan kegiata operasionalnya dengan baik.

Sedanakan dari Analisis Manajemen Sumber Daya menunjukan efektivitas manajemen dalam mengelola aktiva sudah dinilai cukup efisien dan sudah dapat menciptakan penjualan serta menghasilkan laba . Namun dalam hal pengelolahan piutangnya manajemen masih dinilai kurang efektif.

Dari hasil Analisis Profitabilitas kinerja manajemen dalam menggunakan seluruh total aktiva dinilai sudah cukup mampu yang akhirnya bias menghasilkan laba yang optimal.

BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah


Dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk menunjang keberhasilan pembangunan di Indonesia, partisipasi dari semua sektor sangat diperlukan termasuk sektor swasta . Pemerintah mempunyai andil besar dalam membantu terwujudnya kondisi ekonomi yang mantap dan stabil . Sesuaidengan perkembangan perekonomian yang sangat pesat setrta kemajuan teknologi dan industri pada umumnya . Jika perusahaan dituntut untuk mempertahankan kelangsungan usahanya . Jika perusahaan telah menjalankan usahanya secara efisien, maka dapat dikatkan bahwa oerencanaan yang dibuat oleh menejer telah berhasil.

Seorang manajer atauanalisis yang melakukn bergagai analisis keuamngan biasanya mempunyai tujuan spesifik. Selama proses analisis , analiis menggunakan laporan keuanagan, analisis khusus , basis data, dan sumber infomasi lainnya untuk membuat pertimbangan yang masuk akal tentang kondisi masa lalu, sekarang dan prospe dari usaha serta efektivitas manajernyya.

Terdapat berbagai teknik analisis, termasuk berbagai rasio keuangan , yang dapat digunkan melakukan penilaian kinerja sebuah perusahaan. Akan tetapi perlu disadari bahwa teknik yang berbeda akan sesuai untuktujuan yang berbeda. Dalam analisis keuamngan sering kali terdapat hambatan untuk menghitung semuaangka, padahal biasanya hanya terdapat beberapa hubungan yang akan menghasilkan informasi dan pandangan yang betul-betul dibutuhkan oleh analisis.

Penilaian kinerja melalui laporan keuanagan yang didapatkan padadata dan kondisi masalalu sulit untuk mengekstrapolasikan ekspektasi masa depan. Namun kita harus ingat bahwa hanya masa depan yang dapat dipengaruhi oleh keputusan yang diambil hari ini serbagai hasildari analisis keuamngan.

Tidak ada analisis untuk untukmenilai kenerja perusahaan yang dapat memberi jawaban mutlak . Setiap pendangan yang diperoleh bersifat relative, karena kondisi dan operasi [erusahaan sangat bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lain, dan dari satu ndustri ke industri lain. Perbandinga dan standart berdasarkan kinerja masa lalu merupakan halyang sangat sulit dalam perusahaa yang sangat besar, multi usaha konglomerat, dimana informasi spesifik menurut setiap lini usaha biasanya terbatas.

Ukuran kinerja bekerja dengan baik bila diterapkan pada keseluruhan entitas usaha, dimana investasi , operasi dan pembiayaan secara kolektif dikendalikan serta dikelola oleh suatu tim manajemen.

Dari uraian diatas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengambil judul “Analisis Laporan Keuangan Sebagai Salah Satu Alat Untuk Menilai Tingkat Keberhasilan Kinerja Keuangan Manajemen Pada PT.Surabaya Wire – Gresik “